MUSI BANYUASIN, Beritasriwijaya.com – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur dan gaung pemerataan listrik nasional, sekitar 100 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Bangsa, Desa Mangsang, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, hingga kini masih hidup tanpa aliran listrik.
Ironisnya, kemerdekaan Indonesia telah memasuki usia puluhan tahun. Namun bagi warga Dusun Bangsa, gelap gulita masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sekretaris Desa Mangsang Jema’at mengungkapkan, kehadiran perusahaan PT SMB telah memberi harapan baru bagi masyarakat. Perusahaan tersebut telah membantu pemasangan tiang dan Kabel listrik sepanjang4 kilometer.
“Alhamdulillah berkat kehadiran PT SMB, pemasangan lampu dan tiangnya sudah mencapai sejauh ini. Masyarakat sangat terbantu,” ujarnya.
Namun, perjuangan belum selesai. Jaringan listrik tersebut baru menjangkau sebagian wilayah dan masih menyisakan sekitar 4 kilometer lagi menuju Dusun Bangsa.
“Yang belum tinggal masuk lagi ke dalam menuju Dusun Bangsa sepanjang kurang lebih 4 kilometer,” jelasnya.
Untuk melanjutkan jaringan hingga benar-benar menyentuh pemukiman warga, dibutuhkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, terutama dalam penyediaan tiang tambahan dan gardu listrik.
Tanpa gardu dan infrastruktur pendukung lainnya, aliran listrik tidak akan pernah benar-benar sampai ke rumah-rumah warga.
Hidup dalam Gelap
Bagi masyarakat Dusun Bangsa, listrik bukan sekadar penerangan. Ia adalah akses pendidikan, ekonomi, dan kemajuan.
Anak-anak belajar dengan lampu seadanya. Aktivitas warga terbatas ketika malam tiba. Peralatan elektronik yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat modern tak bisa dimanfaatkan.
Padahal, jumlah warga yang menanti penerangan ini tidak sedikit—sekitar 100 KK. Di saat banyak daerah berlomba membangun kawasan industri, pusat ekonomi, hingga infrastruktur megah, masih ada masyarakat yang sekadar ingin merasakan terang lampu di rumah mereka sendiri.
Masyarakat berharap perhatian serius dari Bupati Musi Banyuasin dan jajaran pemerintah daerah. Mereka tidak menuntut lebih—hanya meminta hak dasar sebagai warga negara: akses listrik yang layak.
Sudah saatnya pemerintah hadir menuntaskan apa yang belum selesai. Jika pihak perusahaan telah membuka jalan dengan membantu pemasangan awal, maka estafet pembangunan kini berada di tangan pemerintah daerah.
Empat kilometer mungkin terdengar pendek di atas peta. Namun bagi warga Dusun Bangsa, jarak itu adalah batas antara gelap dan terang.
Dan pertanyaannya kini sederhana: sampai kapan mereka harus menunggu? (ydp)









