BANYUASIN, BERITASRIWIJAYA.COM – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banyuasin tidak hanya mengandalkan pemadaman oleh petugas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuasin juga memperkuat peran masyarakat melalui program Desa Tangguh Bencana, khususnya di wilayah rawan karhutla.
Dari sekitar 150 desa yang masuk kategori rawan karhutla, sebanyak 53 desa telah mendapatkan bantuan peralatan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyuasin, Reza Agust Perdana, S.E., M.Si., didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Gatot Setioko, S.H., mengatakan program Desa Tangguh telah berjalan sekitar empat hingga lima tahun.
Melalui program tersebut, desa-desa rawan karhutla mendapatkan bantuan berupa mesin pemadam, alat pelindung diri (APD), selang, serta pelatihan penanganan kebakaran.
“Harapan kita, desa-desa ini bisa ikut menanggulangi bencana karhutla di wilayahnya masing-masing,” ujar Reza.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Dengan adanya peralatan dan pelatihan, masyarakat diharapkan mampu melakukan penanganan awal ketika kebakaran terjadi, sembari menunggu bantuan petugas.
Reza menegaskan, penanganan karhutla tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan, mulai dari pencegahan hingga penanganan dampak kebakaran, termasuk kabut asap.
“Karhutla ini bukan hanya tugas BPBD. Penanganannya harus berkesinambungan. Kalau kita hanya memadamkan api, asapnya juga harus ditanggulangi,” katanya.
Enam Posko Disiagakan, Personel Diperkuat
Selain memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, BPBD Banyuasin juga meningkatkan kesiapan petugas di lapangan. Sesuai arahan Bupati Banyuasin, fokus utama BPBD saat ini adalah pemadaman karhutla.
Jumlah posko yang sebelumnya empat kini bertambah menjadi enam posko, disertai penambahan personel untuk memperkuat penanganan kebakaran.
BPBD juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri guna mendukung upaya pemadaman. TNI menyiapkan sekitar 130 personel, sedangkan Polri menyiapkan 33 personel.
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) turut dilibatkan dengan empat posko yang masing-masing diperkuat empat personel.
Meski tugas pokok Damkar berfokus pada kebakaran di kawasan permukiman, keterlibatan mereka diperlukan ketika kebakaran meluas atau mulai mengancam wilayah tempat tinggal warga.
491 Kejadian Kebakaran Ditangani
Dalam keterangannya, BPBD Banyuasin menyebutkan sekitar 11 ribu titik panas (hotspot) terpantau selama periode Juni hingga Agustus 2026. Pada periode yang sama, sekitar 491 kejadian kebakaran telah ditangani petugas.
BPBD menyebutkan, dalam sehari petugas dapat menangani sekitar tiga hingga empat kejadian kebakaran.
Dengan penguatan posko dan personel serta pelibatan TNI, Polri, Damkar, dan masyarakat, penanganan karhutla di Banyuasin diharapkan berjalan lebih cepat dan efektif.
Penguatan Desa Tangguh menjadi salah satu langkah penting agar penanggulangan karhutla tidak hanya bergantung pada petugas, tetapi juga didukung kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa. Dengan demikian, potensi kebakaran diharapkan dapat ditangani sejak dini sebelum meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar. (ydp)









