BANYUASIN, Beritasriwijaya.com — Momen menegangkan dialami pasangan suami istri, Amrun Hadi dan Yusdalena, warga Desa Durian Daun, Kecamatan Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin. Persalinan yang seharusnya dilakukan di rumah sakit justru berlangsung di dalam ambulans, di tengah perjalanan menuju rujukan.
Awalnya, Yusdalena hendak melahirkan di RSUD Banyuasin. Namun harapan itu pupus. Pihak rumah sakit menyatakan tidak dapat menangani persalinan karena tidak adanya dokter, sementara kondisi bayi dalam kandungan terdeteksi sungsang—posisi berisiko tinggi karena bayi keluar terlebih dahulu dari bagian pantat.
Hasil pemeriksaan USG memperkuat keputusan rujukan. Namun, persoalan baru muncul. Ambulans yang dinanti tak kunjung datang. Pasangan ini harus menunggu berjam-jam dalam kondisi cemas, mempertaruhkan keselamatan ibu dan bayi.
“Ini soal nyawa,” ungkap Amrun Hadi, Kamis (16/4/2025), saat ditemui di kediamannya.
Setelah penantian panjang, Yusdalena akhirnya dirujuk ke RS Graha Mandiri. Namun takdir berkata lain. Dalam perjalanan, tepatnya di kawasan Jembatan layang Polsekta 8 Kota Palembang, proses persalinan terjadi secara mendadak di dalam ambulans.
Situasi sempat panik. Bayi mulai keluar sebelum sampai ke rumah sakit. Beruntung, dua bidan yang mendampingi sigap mengambil tindakan. Di tengah keterbatasan dan kondisi darurat, bayi akhirnya lahir dengan selamat sesaat setelah azan Magrib berkumandang.
Meski penuh ketegangan, Amrun Hadi tetap bersyukur. Istri dan anaknya selamat dan dalam kondisi sehat.
Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan kekecewaan mendalam. Ia mempertanyakan kesiapan layanan kesehatan di daerah.
“Rumah sakit daerah sebesar itu, masa untuk persalinan saja harus dirujuk? Harusnya bisa langsung ditangani. Masak tidak ada dokter?” ujarnya kecewa.
Ironisnya, rumah sakit rujukan yang dituju dinilai tidak lebih besar dari RSUD Banyuasin, namun justru menjadi tempat harapan terakhir.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi pelayanan kesehatan daerah. Ketika fasilitas ada, namun tenaga medis tidak tersedia, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar pelayanan—melainkan nyawa manusia.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak RSUD Banyuasin masih dalam upaya konfirmasi. (ydp)









