Monpera, Saksi Bisu Heroisme Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang

PALEMBANG, Beritasriwijaya.com Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan (MONPERA) bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan saksi bisu heroisme rakyat Sumatera Selatan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Museum ini menyimpan jejak penting Perang Lima Hari Lima Malam, pertempuran dahsyat melawan agresi Belanda yang terjadi pada 1 hingga 5 Januari 1947 di Kota Palembang.

Peristiwa bersejarah tersebut kini diabadikan secara lengkap di MONPERA, yang terletak di pusat Kota Palembang.

Museum ini menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus pengingat akan pengorbanan para pejuang yang rela mempertaruhkan nyawa demi kedaulatan bangsa.

Koleksi Senjata dan Artefak Perang

Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai senjata perang yang digunakan pada masa perjuangan. Senjata api, senjata rakitan, hingga senjata rampasan dari tentara Jepang seperti Juki Kanju tersimpan rapi sebagai bukti kerasnya pertempuran kala itu.

Tak hanya itu, museum ini juga menampilkan mata uang dari tiga masa kekuasaan, yakni uang peninggalan Jepang, uang Republik Indonesia, serta mata uang lain yang pernah beredar di Sumatera Selatan.

Salah satu koleksi menarik adalah mata uang khusus Sumatera Selatan yang ditemukan pada tahun 1949, yang hanya berlaku selama dua tahun, dari 1949 hingga 1952, dan menjadi simbol kemandirian ekonomi daerah pada masa awal kemerdekaan.

Narasi Sejarah dalam Bentuk Visual

Museum MONPERA menyajikan sejarah tidak hanya melalui benda, tetapi juga lewat narasi visual yang komunikatif. Di lantai tiga, pengunjung disuguhi kisah Perang Lima Hari Lima Malam dalam bentuk komik sejarah berjudul “Pertempuran Lima Hari Lima Malam”. Komik ini menggambarkan kronologi pertempuran sejak 1 Januari hingga 5 Januari 1947 secara runtut dan mudah dipahami, terutama bagi generasi muda.

Tokoh-Tokoh Pejuang Sumatera Selatan

MONPERA juga memamerkan foto dan patung tokoh-tokoh penting yang terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sumatera Selatan. Di antaranya H. Abdul Rozak, pejuang kemerdekaan, anggota Dewan Republik Indonesia Serikat (RIS), sekaligus salah satu pendiri Universitas Sriwijaya.

Selain itu, terdapat pula dokumentasi tokoh Bambang Utoyo serta poster foto Susilo Bambang Yudhoyono, yang tercatat pernah menjadi pemimpin pasukan di wilayah Sumatera Selatan pada masa tugas militernya.

Tak ketinggalan, pengunjung juga dapat melihat foto Gubernur pertama Sumatera Selatan yang turut terlibat langsung dalam peristiwa Perang Lima Hari Lima Malam, menegaskan bahwa perlawanan saat itu melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan daerah.

Museum Edukasi dan Simbol Nasionalisme

Menurut Romi, salah satu petugas museum, MONPERA tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda sejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Lewat koleksi dan cerita yang ada di sini, kami ingin generasi sekarang memahami bahwa kemerdekaan Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan, diraih melalui perjuangan yang tidak mudah,” ujarnya.

Dengan arsitektur sarat filosofi dan koleksi sejarah yang lengkap, MONPERA menjadi simbol keteguhan, keberanian, dan persatuan rakyat Sumatera Selatan dalam menghadapi penjajahan.

Penjaga Ingatan Sejarah

Keberadaan Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas bangsa. Perang Lima Hari Lima Malam bukan hanya kisah pertempuran, tetapi juga cerita tentang keberanian rakyat melawan keterbatasan demi mempertahankan kemerdekaan.

MONPERA kini berdiri sebagai penjaga ingatan kolektif, memastikan bahwa semangat juang para pahlawan Sumatera Selatan tidak pernah pudar ditelan zaman. (ydp)

Pos terkait