Revitalisasi SDN 23 Tanjung Lago Rp994 Juta Sisakan Pertanyaan, Kerusakan Bangunan hingga Dugaan Material Hilang Belum Terjawab

BANYUASIN, Beritasriwijaya.com Sejumlah pertanyaan terkait proyek revitalisasi SD Negeri 23 Tanjung Lago, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, masih menggantung di tengah temuan kerusakan bangunan yang baru selesai dikerjakan melalui mekanisme swakelola.

 

Bacaan Lainnya

Di lapangan, beberapa bagian lantai ruang kelas terlihat jebol dan berlubang. Sejumlah pintu juga mengalami kerusakan, sementara lantai semen di beberapa titik tampak mengelupas. Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya mengenai kualitas pekerjaan proyek yang menelan anggaran Rp994.230.754.

 

Berdasarkan dokumen perencanaan, nilai pekerjaan konstruksi tercatat mencapai Rp943.289.271. Anggaran tersebut mencakup pekerjaan pondasi dan beton sebesar Rp162,6 juta, pekerjaan atap Rp115,4 juta, pekerjaan lantai Rp90,1 juta, pekerjaan plafon Rp87,8 juta, pekerjaan dinding dan plesteran Rp86,1 juta serta sejumlah item pekerjaan lainnya.

 

Namun di balik besarnya anggaran tersebut, muncul sejumlah pertanyaan yang hingga kini belum memperoleh penjelasan resmi.

 

Pertama, mengapa kerusakan sudah muncul pada bangunan yang belum lama selesai dikerjakan?

 

Kedua, bagaimana proses pengawasan pekerjaan sehingga kerusakan tersebut dapat terjadi?

 

Ketiga, bagaimana pengelolaan material sisa proyek, termasuk sekitar 2.000 batu bata yang menurut keterangan salah satu kepala tukang tersisa setelah pekerjaan selesai?

 

Keempat, bagaimana penjelasan atas perbedaan informasi terkait nilai pekerjaan fisik yang muncul di lapangan?

 

Seorang warga menilai pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka mengingat sumber pendanaan berasal dari uang negara.

 

“Kalau bangunannya bagus tentu masyarakat ikut senang. Tapi kalau sudah ada kerusakan seperti ini, wajar kalau publik bertanya. Ini bukan bangunan pribadi, melainkan fasilitas pendidikan untuk anak-anak,” ujarnya.

 

Sementara itu, seorang kepala tukang yang mengaku terlibat dalam proyek tersebut menyebut masih terdapat sisa material setelah pekerjaan selesai.

 

“Masih ada sekitar dua ribuan batu bata yang tersisa. Setahu saya sekarang sudah tidak ada lagi di lokasi,” katanya.

 

Pernyataan tersebut masih memerlukan klarifikasi dari pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan.

 

Publik berharap berbagai pertanyaan tersebut tidak berhenti sebagai perbincangan di masyarakat semata. Mengingat proyek revitalisasi sekolah bertujuan meningkatkan mutu sarana pendidikan, transparansi pelaksanaan dan kualitas hasil pekerjaan dinilai menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.

 

Masyarakat juga berharap instansi terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai perencanaan, spesifikasi teknis, dan ketentuan yang berlaku.

 

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SD Negeri 23 Tanjung Lago dan instansi terkait masih diupayakan untuk dimintai klarifikasi. (ydp)

Pos terkait